Jenis Angin dan Proses Terbentuknya Angin

 MerdekaSatu.com – Jenis Angin dan Proses Terbentuknya Angin. adalah udara yang bergerak dengan arah aliran angin dari tempat bertekanan tinggi ke tempat bertekanan rendah atau dari daerah bersuhu rendah ke bersuhu tinggi karena adanya perbedaan tekanan udara.

Jika angin berkaitan erat dengan sinar matahari karena daerah yang terkena sinar matahari kuat memiliki suhu yang lebih tinggi dan tekanan udara yang lebih rendah di bandingkan daerah lain di sekitarnya sehingga menyebabkan aliran udara. Maka angin juga dapat disebabkan oleh pergerakan benda yang menyebabkan udara di sekitarnya berpindah ke tempat lain.

Jenis Angin dan Proses Terbentuknya Angin

Apa Saja Jenis Angin dan Bagaimana Proses Terbentuknya Angin

Angin memiliki banyak manfaat antara lain menghasilkan listrik dengan kincir angin, menggerakkan perahu layar, membantu nelayan melakukan perjalanan bolak-balik, dan membuang panas seperti kipas. Selain itu, angin juga berperan sebagai instrumen untuk membantu pesawat dalam lepas landas atau mendarat di landasan pacu.

Angin berkiprah menurut wilayah bertekanan tinggi ke wilayah atau lokasi bertekanan lebih rendah. Pergerakan atau kecepatan angin disebut kecepatan angin. Kecepatan angin adalah jarak yang di tempuh angin atau pergerakan udara per satuan waktu dan di nyatakan dalam meter per detik (m/s), kilometer per jam (km/h), dan mil per jam (mi/h).

Kecepatan angin di ukur dengan alat yang disebut anemometer atau anemograph. Perangkat ini juga merupakan salah satu instrumen yang di gunakan di stasiun cuaca. Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai pentingnya, faktor dan jenis angin yang perlu Anda ketahui:

Baca Juga : Pulau Paling Indah di Indonesia

Proses Terbentuknya dan Faktor Terjadinya Angin

Di kutip dari Samir Abdul Halim dkk. Dalam Ensiklopedia Geografi Islam, ada 4 tingkatan dalam faktor angin, yaitu:

Proses Terbentuknya dan Faktor Terjadinya Angin

1.Gradien Barometrik

Angka yang menunjukkan perbedaan tekanan udara antara 2 isobar yang berjarak 111 km. semakin besar gradien barometrik, semakin cepat angin bertiup.

2.Lokasi tempat

Kecepatan angin di dekat khatulistiwa lebih cepat daripada yang jauh dari khatulistiwa.

3.Tempat tinggi

Semakin tinggi suatu tempat maka semakin kuat angin yang bertiup, hal ini di sebabkan adanya pengaruh gaya gesek yang menghambat kecepatan udara. Di bagian atas bumi, gunung, pohon, & topografi yg tak sama lainnya mengerahkan gaya goresan yg keras. Semakin tinggi suatu tempat, semakin rendah gaya gesekan ini.

4.Waktu

Pada siang hari angin bertiup lebih cepat dari pada malam hari. Salah satu faktor penyebab terjadinya angin adalah perbedaan tekanan yang di timbulkan oleh perbedaan suhu udara. Kuat atau lemahnya hembusan angin di tentukan oleh besarnya kenaikan tekanan barometrik, atau dengan kata lain kecepatan angin sebanding dengan kenaikan tekanan barometrik.

Selain gradien tekanan, pergerakan angin di tentukan oleh faktor lain seperti pengaruh rotasi bumi dan gaya gesekan. Semakin kencang disparitas tekanan udara, semakin cepat angin bertiup.

Pengukur Kecepatan Angin

Mengutip dari Journal of TRITON Water Resources Management, Universitas Pattimura, Ambon, Kecepatan angin di ukur dengan alat yang disebut anemometer atau anemograph. Perangkat ini juga merupakan salah satu instrumen yang di gunakan di stasiun cuaca.

Pengukur Kecepatan Angin

Anemometer pertama adalah anemometer yang ditemukan oleh Leon Battista Alberti. Alat Anemometer mampu di share menjadi dua bagian: yang mengukur kecepatan angin dan yang mengukur tekanan angin.

Namun, karena tekanan dan kecepatan berhubungan erat, anemometer yang dirancang untuk satu akan memberikan informasi tentang keduanya. Ada beberapa jenis anemometer, yaitu:

1.Anemometer Dengan Tiga Atau Empat Cangkir

Sensor terdiri dari tiga atau empat cangkir yang dipasang pada radius yang berpusat pada sumbu vertikal, atau semua cangkir dipasang pada sumbu vertikal. Seluruh mangkuk menunjuk ke arah melingkar, sehingga rotor berputar ke arah yang tetap saat angin bertiup. Kecepatan rotor tergantung pada kecepatan angin. Melalui sistem roda gigi mekanis, putaran rotor mengatur sistem akumulasi angka yang menunjukkan jarak tiupan angin.

Anemometer jenis “Cup counter” hanya dapat mengukur kecepatan angin rata-rata selama periode pengamatan. Dengan alat ini, penambahan nilai yang dapat dibaca dari satu pengamatan ke pengamatan berikutnya menyatakan jarak kumulatif angin yang di tempuh selama waktu dua pengamatan, sehingga kecepatan angin sama dengan jarak kumulatif yang ditempuh dibagi panjang selang waktu pengamatan.

Jenis anemometer kecepatan terdiri dari: anemometer cangkir, anemometer kincir angin.

Anemometer laser doppler, anemometer sonik, anemometer bola pingpong, dan Alat nemometer kawat panas. Sedangkan jenis pressure anemometer terdiri dari : Plate anemometer dan tube anemometer.

2.Anemometer Baling-Baling

Anemometer ini hampir setara dengan anemometer di atas, hanya bedanya antena ini dipasang pada sumbu horizontal.

3.Anemometer Tabung Tekanan

Cara kerja anemometer ini mengikuti prinsip tabung pitot, yang dihitung dari tekanan statis dan tekanan kecepatan Lantaran kecepatan angin yg tidak sinkron menurut ketinggian yg tidak sinkron, ketinggian sistem anemometer umumnya di ubahsuaikan dari tujuan atau penggunaan. Untuk bidang agroklimatologi dipasang sensor ketinggian (piringan) 2 meter di atas permukaan tanah.

Angin Lokal Terdiri Dari 3 Jenis Angin

Mengutip Tumiar Katarina Manik dalam Klimatologi Dasar: Elemen Iklim dan Proses Pembentukan Iklim, jenis angin secara umum digolongkan menjadi 2 yaitu angin lokal dan angin muson.

Angin Lokal Terdiri Dari 3 Jenis Angin

Angin lokal terdiri dari 3 jenis angin, yaitu angin darat dan angin laut, angin lembah dan gunung, angin halyard/angin Fohn. Hembusan Angin musiman terdiri dari 5 jenis angin, yaitu angin pasat, angin pasat berlawanan, angin barat, angin timur, dan angin muson.

1.Angin Darat Dan Angin Laut.

Angin laut adalah salah satu bentuk sirkulasi termal. Pemanasan daratan dan air yang tidak merata menjadi penyebab terjadinya angin skala meso yang terjadi di wilayah pesisir. Pada siang hari, permukaan daratan menghangat lebih cepat daripada lautan, dan pemanasan yang intens menyebabkan tekanan negatif di atas daratan.

Udara di atas air masih lebih dingin daripada udara di darat karena tekanan udara yang tinggi di atas lautan. Distribusi tekanan ini umumnya menyebabkan angin laut bertiup dari laut ke darat. Pada malam hari, daratan lebih cepat dingin daripada lautan. Udara pada atas daratan lebih dingin menurut lautan, sekali lagi membangun distribusi tekanan begitu tekanan tinggi kini   pada atas daratan.

Sekarang angin bertiup berlawanan arah dari darat ke laut dan menjadi angin darat.Perbedaan suhu antara darat dan laut biasanya lebih kecil pada malam hari daripada siang hari, oleh karena itu angin darat lebih lemah daripada angin laut.

2.Angin Lembah Dan Angin Gunung

Pada siang hari, udara yang tampak terperangkap di lembah lebih cepat panas daripada udara di atas gunung yang lebih terbuka (bebas). Kemudian udara mengalir dari lembah ke puncak gunung dengan angin lembah. Sebaliknya, pada malam hari, arusnya berbalik. Lereng gunung mendingin lebih cepat, mendinginkan udara yang menghantam dinding gunung.

Semakin dingin, semakin padat udara dan semakin berat aliran udara menuruni lembah, menciptakan angin pegunungan. Termal di mulai pagi-pagi sekali di sebagian besar tempat dan mencapai kecepatan tertingginya di arah yang berlawanan sekitar tengah hari dan menjelang malam. Angin yang turun dari lembah masuk dan biasanya mencapai puncaknya sebelum pagi hari.

Baca Juga : Penjelasan Tenaga Endogen dan Eksogen

3.Angin Jatuh atau Angin Fohn

Fohnwind atau angin jatuh adalah angin kering dan panas yang biasanya terdapat di lereng pegunungan Alpine. Udar jenis ini tersebar luas di Indonesia dengan nama angin Bahorok (Deli), angin Kumbang (Cirebon), angin Gending di Pasuruan (Jawa Timur) dan angin Brubu di Sulawesi Selatan. Sedangkan Angin Fohn adalah angin yang bertiup di daerah yang suhu dan kelembapannya bervariasi.

Akan tetapi A\angin Fohn muncul karena massa udara mengalir ke atas gunung setinggi lebih dari 200 m di satu sisi dan turun di sisi lain. Biasanya angin ini panas dan merusak serta dapat menimbulkan korban jiwa. Tanaman yang terkena angin ini bisa mati dan orang yang terkena angin ini bisa kehilangan daya tahannya terhadap penyakit.

5 Jenis Angin Musiman

Jenis Angin Musiman

1.Angin Pasat

Angin pasat adalah angin yang bertiup secara merata sepanjang tahun dari daerah subtropis sampai khatulistiwa. Terdiri menurut angin pasat timur bahari yg bertiup pada belahan bumi utara & angin pasat tenggara yg bertiup pada belahan bumi selatan. Kedua angin pasat ini bertemu di sekitar ekuator.

Karena suhu di daerah tropis selalu tinggi, massa udara di paksa naik secara vertikal (konveksi). Daerah pertemuan dua angin pasat di sebut Daerah Konvergensi Intertropis (DKAT). DKAT di tandai dengan suhu yang selalu tinggi. Akibat peningkatan massa udara ini, kawasan DKAT bebas dari angin topan. Oleh karena itu, daerah ini disebut lesu (daerah sepi).

2.Angin Anti-Pasat

Angin counter-trade adalah udara di atas wilayah khatulistiwa yang mengalir ke daerah kutub dan tenggelam di daerah maksimum subtropis. Di kenal sebagai angin anti-pasat barat daya di belahan bumi utara dan angin anti-pasat barat laut di belahan bumi selatan. Pada lintang sekitar 20o – 30o lintang utara dan lintang selatan angin cross trade jatuh kembali secara vertikal sebagai angin kering.

Angin kering jenis ini menyerap uap air di udara dan di permukaan tanah. Akibatnya, gurun seperti gurun di Arab Saudi, Gurun Sahara (Afrika) dan gurun di Australia terbentuk di Bumi. Di daerah subtropis (30° – 40° lintang selatan) terdapat daerah “subtropis teduh” yang udaranya tenang, turun dari atas dan tidak ada angin. Sementara itu, terdapat pula daerah tenang di daerah khatulistiwa antara garis lintang 10o utara dan garis lintang 10o selatan yang disebut sebagai daerah khatulistiwa teduh atau daerah tenang.

3.Angin Barat

Bagian dari udara yang berasal dari daerah maksimum subtropis di utara dan selatan mengalir ke daerah beriklim utara dan selatan yang beriklim sedang sebagai angin barat. Pengaruh angin barat di belahan bumi utara kurang terasa karena adanya hambatan benua. Di belahan bumi selatan, pengaruh angin barat sangat besar terutama pada lintang 60 derajat selatan. Angin barat yang sangat kuat bertiup di sini, yang oleh para pelaut disebut Roaring Forties.

4.Angin Timur

Di kutub utara dan selatan bumi terdapat daerah dengan tekanan udara maksimum. Dari daerah ini angin mengalir ke daerah minimum sub-polar (60oLU/LS). Angin ini disebut angin timur. Angin timur dingin karena berasal dari daerah kutub.

5.Monsun (Muson)

Angin muson adalah angin yang bertiup secara berkala (minimal 3 bulan) dan antara satu periode dengan periode lainnya polanya berlawanan, berubah arah dengan arah yang berlawanan setiap setengah tahun. Umumnya, angin darat berhembus pada paruh pertama tahun dan angin laut lembab pada paruh berikutnya.

Di mulai awal bulan Oktober sampai April matahari berada di bagian bumi selatan. Sehingga benua Australia mndapat hawa panas trik matahari terbanyak dari dataran Asia. Akibatnya, Australia memiliki pusat tekanan udara rendah (depresi), sedangkan Asia memiliki pusat tekanan udara tinggi (kompresi). Keadaan ini mengakibatkan arus angin menurut benua Asia ke benua Australia.

Baca Juga : Daftar Pemandangan Alam Indonesia yang Menakjubkan

Di Indonesia angin tersebut merupakan angin musim timur laut di belahan bumi utara dan angin musim barat di belahan bumi selatan. Lantaran angin ini melewati Samudra Pasifik & Hindia, mereka membawa sebagian uap air, sebagai akibatnya Indonesia biasanya mengalami sirklus hujan. Musim hujan meluas ke seluruh wilayah Indonesia, namun penyebarannya tidak merata. semakin ke timur, curah hujan berkurang karena kandungan uap air berkurang.

Pada bulan April hingga Oktober, matahari berada di belahan bumi utara, sehingga benua Asia lebih panas daripada benua Australia. Akibatnya, Asia memiliki pusat tekanan udara rendah sedangkan Australia memiliki pusat tekanan udara tinggi yang menyebabkan angin dari Australia ke Asia.

Kesimpulan

Nah, kira-kira seperti di atas pejelasan tentang – Jenis Angin dan Proses Terbentuknya Angin. Indonesia memiliki angin musim timur di belahan bumi selatan dan angin musim barat daya di belahan bumi utara. Karena tidak melintasi lautan yang luas, angin tidak banyak mengandung uap air. Oleh karena itu, Indonesia pada umumnya mengalami musim kemarau, kecuali pantai barat Sumatera, Sulawesi Tenggara dan pantai selatan Irian Jaya.

Di antara kedua musim tersebut terdapat musim yang di sebut Musim Peralihan, yaitu: musim kemarau yang merupakan peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, dan musim jangkar, yang merupakan peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Ciri-ciri masa peralihan adalah: udara panas, arah angin tidak menentu, dan hujan tiba-tiba dalam waktu singkat dan deras.

SHARE ON :